Kamis, 30 Maret 2017

Pendidikan Karakter Islami

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menetapkan 18 nilai yang menjadi pilar pendidikan budaya dan karakter bangsa (Hajriyanto Y. Thohari, 2013). Rumusan itu dibuat sebagai respon terhadap kondisi masyarakat di Indonesia yang dinilai masih jauh dari gambaran hasil pendidikan yang kita inginkan sebagaimana dirumuskan oleh UU Sisdiknas tahun 2003 pasal 3.
Nilai-nilai yang telah dirumuskan itu ada relijius, toleran, cinta damai, bersahabat, demokratis, jujur, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, rasa ingin tahu, gemar membaca, menghargai prestasi, peduli lingkungan, peduli sosial,  semangat kebangsaan, cinta Tanah Air, dan bertanggung jawab.
Penulis meyakini, 18 nilai itu merupakan pilar-pilar yang dikristalkan dari dasar, falfasah, dan kearifan bangsa Indonesia melalui proses yang sungguh-sungguh dan memadai. Nilai-nilai itu merupakan karakter ideal yang ingin diperjuangkan bangsa Indonesia (baca Kemendikbud) khususnya melalui pendidikan. Apakah ke-18 nilai itu telah mencerminkan “cita-cita karakter” yang diinginkan bangsa Indonesia? Kita memerlukan kajian lebih mendalam untuk membuktikan hal itu.
Penulis berpendapat, citra karakter yang ingin dikembangkan itu seharusnya juga mengadopsi “kekuatan karakter” yang diyakini telah nyata dan manifes dalam sejarah perjuangan dan kehidupan bangsa Indonesia. Inilah catatan penting yang perlu disematkan kepada perumusan 18 nilai atau karakter dari tim Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu. Ke-18 karakter itu memang nampak sebagai hasil dari perasan terhadap dasar, falsafah, dan nilai-nilai bangsa, tetapi ada kesan kuat para perumus hendak membawa cita-cita “karakter” bangsa ini ke arah karakter-karakter yang bertipe maju, progresif, dan aktif. Ciri-ciri itu sepertinya sebagian telah dimiliki dan menjadi citra ideal dari karakter masyarakat Barat (baca Eropa Barat dan Amerika). 
Implikasinya, citra karakter yang dipandang sebaliknya, padahal itu sangat positif dan merupakan kekayaan “batiniah” bangsa, tidak dicantumkan. Di antara karakter yang seharusnya ada itu antara lain adalah karakter penuh rasa syukur,sabar, dan rendah hati kepada sesama. Kesan sekilas dari ketiga karakter itu memang kurang progresif, bahkan terkesan pasif sehingga itu kemudian tidak dimasukkan. Akan tetapi, tiga hal ini sesungguhnya merupakan kekuatan “pertahanan” yang sangat penting bagi mentalitas bangsa Indonesia sekaligus penciri pentingnya. Sejarah perjuangan bangsa dalam waktu panjang dan mental bangsa akhir-akhir ini saat menghadapi rangkaian bencana telah menunjukkan itu semua.
Kita akhir-akhir ini dikepung oleh rangkaian bencana alam dan non alam. Akibat dari bencana antara lain adalah kerusakan dan kehancuran yang menyebabkan kepedihan dan kesedihan luar biasa. Semua terjadi di luar harapan dan perencanaan. Orang Barat konon mudah sekali jatuh mental akibat sesuatu yang sedikit saja meleset dari perencanaannya terjadi. Fakta beberapa tahun terakhir memberikan banyak kesaksian mengenai kuatnya mentalitas bangsa dalam menghadapi kenyataan di luar rencana itu, bahkan sesuatu yang sangat tidak diinginkan itu. Bencana yang menimpa ternyata justru menunjukkan jati diri bangsa ini yang begitu kuat menghadapi kesulitan. Pada momen-momen tertentu, para sukarelawan asing konon terkagum dengan mentalitas sebagian bangsa ini yang demikian kuat dalam menghadapi kepahitan. Dalam konteks itu, karakter sabar sungguh amat dibutuhkan.
Catatan perjuangan para pahlawan kemerdekaan bangsa ini juga demikian. Mereka bukan hanya gigih (aktif mengupayakan tercapainya tujuan/aktif), tetapi juga sabar (kuat menahan berbagai penderitaan/ pasif-bertahan). Itulah yang membuat perjuangan mereka tak mudah padam dalam waktu panjang. Dan itu pulalah kekayaan bangsa ini yang pernah ada, pernah mengantarkan bangsa Indonesia kepada kemerdekaan, dan potensial masih ada dan bisa dipupuk di masa sekarang. Apakah kita kemudian akan membuangnya begitu saja dari daftar karakter yang ingin kita bangun untuk bangsa ini?
Mengenai penuh rasa syukur, kita mengenal dengan baik lagu berjudul syukur yang antara lain berisi syair “dari yakinku teguh- hati ihlasku penuh- akan karuniamu”. Saya pribadi merasa tergetar dan dapat khusyu’ menghayati lagu yang seolah lahir dari lubuk hati bangsa itu. Orang lain mungkin juga mengalami hal yang sama. Kita juga dengan mudah memperoleh pesan semakna dengan itu dalam teks-teks kebangsaan kita “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” dalam awalan pembukaan UUD 1945. Saya meyakini sepenuhnya bahwa pernyataan dalam teks lagu dan pembukaan UUD 1945 itu tidaklah kosong. Ia mencerminkan suasana batin mendalam bangsa ini akan rasa bahagia yang mendalam atas tercapainya kemerdekaan dari penjajahan.
Rasa syukur juga menjadi kekuatan mentalitas bangsa kita saat-saat menghadapi kesulitan dan bencana. “alhamdulillah saya tidak apa-apa” kata yang banyak saya dengar beberapa hari setelah bencana gempa Yogya 2006 yang saya juga termasuk di dalamnya. Rasa syukur itu bukan pasif. Akan tetapi, ia secara batiniah sangat aktif yaitu mengkoordinasikan seluruh diri agar menerima yang terjadi dan mensyukuri yang masih ada. Itu sungguh kekuatan luar biasa positif bangsa kita.
Apakah kita lalu akan berupaya membuang kedua karakter penting itu yang telah manifes dan “berguna” bagi bangsa ini yaitu penuh rasa syukur dan sabar dengan alasan ini terkesan condong kepada pasivitas? Dengan pertimbangan pentingnya dua hal itu sebagai pertahanan “batiniah” bangsa ini sekaligus rendah hati sebagai penciri bangsa, saya mengusulkan menambahkan ketiga pilar tersebut untuk menambah 18 karakter yang telah ditetapkan oleh Kemenerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. (Artikel ini pernah dipublikasikandi Gorontalo Pos).

Kamis, 16 Maret 2017

Tentang UMY

Niat untuk mendirikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) telah ada sejak lama. Prof. Dr. Kahar Muzakkir dalam berbagai kesempatan melemparkan gagasan perlu didirikannya Universitas Muhammadiyah. Ketika Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pengajaran meresmikan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1960, secara eksplisit piagam pendiriannya mencantumkan FKIP sebagai bagian dari Universitas Muhammadiyah. Barulah pada bulan Maret 1981, melalui perjuangan yang keras beberapa aktivis Muhammadiyah seperti Drs. H. Mustafa Kamal Pasha, Drs. M. Alfian Darmawam, Hoemam Zainal, S.H., Brigjen. TNI. (Purn.) Drs. H. Bakri Syahid, K.H.Ahmad Azhar Basir, M.A., Ir.H.M.Dasron Hamid, M.Sc., H.M. Daim Saleh, Prof. Dr. H. Amien Rais, M.A., H.M.H. Mawardi, Drs. H. Hasan Basri, Drs. H. Abdul Rosyad Sholeh, Zuber Kohari, Ir. H. Basit Wahid,H Tubin Sakiman yang gigih mencari Mahasiswa serta didukung oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat itu, K.H. A. R. Fakhrudin dan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY H. Mukhlas Abror, secara resmi didirikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, yang kemudian berkembang hingga saat ini.
Pada awal berdirinya, rektor UMY dipercayakan kepada Brigjen. TNI (Purn) Drs. H. Bakri Syahid, yang saat itu sudah selesai masa tugasnya sebagai Rektor IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Rektor periode berikutnya dipercayakan kepada Ir. H. M. Dasron Hamid, M.Sc. Akan tetapi karena proses permintaan izin menteri belum selesai, maka ditunjuk seorang sesepuh Muhammadiyah, H. M. H Mawardi, menjadi rektor. Setelah turun izin menteri, ditetapkan Prof. Dr. H. Bambang Cipto, M.A. sebagai rektor UMY.

Kamis, 05 Maret 2015

Sukses Berbisnis Dengan Bimbel




                Banyaknya orang tua yang menginginkan anak – anaknya cerdas dan pintar, mendorong para orang tua memberikan anak – anak mereka les tambahan diluar jam sekolah. Hal ini menjadi peluang usaha bagi par pelaku bisnis maupun para pendidik. Apabila kita mempunyai kemampuan  di bidang ilmu pengetahuan yang bagus serta bisa sabar dalam menghadapi anak – anak, tidak menutup kemungkinan bagi kita untuk menangkap peluang usaha tersebut.
Bisnis bimbingan belajar telah berkembang sejak lama, bisnis ini manjadi salah satu bisnis yang tidak pernah mati. Bahkan, kini banyak lembaga bimbingan belajar yang berkembang menjadi franchise. Sasaran pengguna jasa dari usaha ini cukup beragam, mulai dari anak SD hingga SMA. Baik bimbingan belajar secara regular ataupun bimbingan belajar program musiman yang biasanya dipersiapkan untuk menghadapi ujian semester ataupun kelulusan dan ujian masuk sekolah ke tingkat selanjutnya.
Bisnis ini termasuk mudah, karena hanyalah mengandalkan kemampuan kita dalam ilmu pengetahuan dan ilmu mendidik anak. Untuk memulai bisnis ini, berikut kami berikan beberapa tips yang harus diperhatikan sebelum memulai usaha bimbingan belajar.
  1. Kemampuan mendidik anak-anak atau remaja ( tergantung tingkatan pendidiknya), menjadi modal utama dari bisnis ini.
  2. Kemampuan mencari tenaga pendidik yang sesuai dengan bidang pelajaran masing-masing.
  3. Menguasai materi-materi pelajaan dasar, seperti matematika dan ilmu exact lainnya.
  4. Megajarkan materi bimbingan yang tidak jauh berbeda dengan materi yang akan diujikan.
  5. Mengatur jadwal bimbingan belajar yang sesuai, baik untuk murid maupun untuk tenaga pengajar.
  6. Membuat modul pengajaran untuk setiap paket bimbingan belajar.
  7. Kemampuan bekerjasama dan berkoordinasi dengan tenaga pengajar dan tenaga pembantu lainnya.
  8. Mempunyai bangunan dengan banyak ruangan atau kelas untuk proses belajar – mengajar, administrasi, ruang tamu / ruang tunggu, kamar mandi, dan lahan parkir.
  9. Inventaris kelengkapann belajar juga harus tersedia, seperti kursi, meja, dan whiteboard.
  10. Modal untuk kegiatan operasional, diantaranya buku modul, ATK serta gaji pengajar dan  tenaga pembantu lainnya seperti bagian administrasi dan keuangan, serta bagian kebersihan.

Karya Ilmiah Lingkungan Bisnis

  KARYA ILMIAH LINGKUNGAN BISNIS  
PELUANG BISNIS PETERNAKAN AYAM

Disusun Oleh:
Nama        :       Muhammad Huda Helmiansyah
N.I.M        :       14.12.8042
Kelas         :       14.S1-SI.04
2015
 

Kata Pengantar
Alhamdulillah dengan mengucap syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan taufiqnya kepada kami sehingga makalah karya ilmiah lingkungan bisnis yang berjudul "Peluang Bisnis Peternakan Ayam" dapat  diselesaikan dengan baik dan dapat disajikan sebagai tugas Mata Kuliah Lingkungan Bisnis.
Makalah ini di buat dengan tujuan agar para pembaca dapat mengetahui bagaimana berbisnis peternakan ayam. Penulis juga mengharapkan kepada pembaca agar setelah membaca artikel ini pembaca dapat langsung untuk memulai bisnisnya.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada dosen yang terkait dan pihak-pihak yang telah membantu menyusun dalam menyelesaikan karya ilmiah ini. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca yang budiman.
Penulis mohon maaf apabila dalam karya ilmiah ini terdapat banyak kekurangan. .Untuk itu saya sebagai penulis menerima kritik dan sarannya demi perbaikan selanjutnya Terimakasih.


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Abstrak
Ayam kampung boleh dikatakan sebagai ayam asli Indonesia yang sudah dipelihara sejak
jaman dahulu. Ayam ini memiliki potensi yang sudah terbukti, mampu member
kontribusi bagi pemenuhan kebutuhan keluarga, setidaknya sebagai penghasil daging dan
telur. Kebanyakan ayam kampung bersifat dwifungsi, yaitu sebagai penghasil daging dan
penghasil telur, dan biasanya tergantung bagaimana tujuan peternak memelihara ayam
kampung. Ayam kampung merupakan hasil domestikasi ayam hutan merah selama
berabad-abad. Ayam kampung yang ada di Indonesia morfologinya (bentuk-bentuk fisik)
sangat beragam, sulit sekali dibedakan dan dikelompokkan ke dalam klasifikasi tertentu.
Karena tidak memiliki cirri yang khusus dan tidak adanya ketentuan tujuan dan arah
usaha peternakannya.
B.   Tujuan dan Manfaat Penulisan
     Adapun Tujuan Penulisan ini adalah sebagai berikut: 1. Menyampaikan kepada pembaca agar dapat mengetahui bagaimana berbisnis peternakan ayam.
2. Memberikan sedikit cara mulai berbisnis yang mampu menghasilkan ribuan dollar dari beternak ayam tersebut.

C.   Metode Penulisan
    Dalam menulis karya ilmiah ini penulis untuk memberikan tulisannya dan memperoleh data-data adalah dengan menggunakan beberapa metode sebagai berikut:
1. Studi Online: Penulis memperoleh data-data dari online atau dari internet yang mana memuat beragam data yang berkaitan dengan judul karya ilmiah tersebut.

2. Studi Kepustakaan: Penulis membaca buku yang berkaitan dengan judul karya ilmiah dan menuangkanya kedalam karya ilmiah tersebut.



BAB II
PEMBAHASAN
             Ayam kampung boleh dikatakan sebagai ayam asli Indonesia yang sudah dipelihara sejak jaman dahulu. Ayam ini memiliki potensi yang sudah terbukti, mampu memberI kontribusi bagi pemenuhan kebutuhan keluarga, setidaknya sebagai penghasil daging dan telur. Kebanyakan ayam kampung bersifat dwifungsi, yaitu sebagai penghasil daging dan penghasil telur, dan biasanya tergantung bagaimana tujuan peternak memelihara ayam kampung.
             Ayam kampung merupakan hasil domestikasi ayam hutan merah selama
berabad-abad. Ayam kampung yang ada di Indonesia morfologinya (bentuk-bentuk fisik)
sangat beragam, sulit sekali dibedakan dan dikelompokkan ke dalam klasifikasi tertentu.
Karena tidak memiliki cirri yang khusus dan tidak adanya ketentuan tujuan dan arah
usaha peternakannya.
             Ayam kampung dinamakan juga sebagai ayam buras (bukan ras),
untuk membedakan dengan ayam yang sudah jelas tujuan dan arah usahanya, misalnya
khusus petelur atau pedaging) yang disebut dengan ayam ras.
Produktivitas ayam kampung yang dipelihara secara ala kadarnya memang masih rendah. Produksi telur pertahunnya sekitar 60 butir dan berat badan ayam jantan dewasa tidak melebihi dari 2 kg. Apa lagi ayam betina dan ayam-ayam yang sudah tua maka berat badannya jauh lebih rendah lagi. Namun demikian, bila ayam kampung dipelihara secara benar, tepat dan intensif maka produktivitasnya dapat ditingkatkan, khususnya bila diarahkan untuk petelur. Beternak ayam kampung perlu dipersiapkan beberapa hal, diantaranya adalah penetapan tujuan beternak, apakah sebagai penghasil daging atau penghasil telur. Penentuan tujuan ini penting karena akan menentukan cara memelihara dan manajemennya, termasuk dalam pemilihan induk untuk bibitnya. Selain menentukan tujuan komoditas yang akan diproduksi, penentuan maksud beternak juga penting. Setidaknya ada 3 maksud dan tujuan orang beternak ayam kampung, yaitu beternak hanya sekedar mengisi waktu luang dan beternak sebagai sumber penghasilahan keluarga. Bila beternak hanya untuk mengisi waktu luang, maka kepuasan yang dicapai adalah kepuasan mengisi waktu dengan kesibukan sehari-hari mengurus ternak.              Kepuasan tersebut memberikan nilai tersendiri. terutama bagi yang sudah pensiun,selain kepuasan tersebut, beternak juga menambah hasil berupa telur atau anak ayam atau daging walaupun ini bukanlah target utama dari beternak. Maksud dan tujuan yang kedua adalah beternak sebagai usaha penghasil pendapatan.
               Bila tujuan ini sudah ditetapkan maka usaha peternakan ayam kampung yang dijalankan akan menerapkan kaidah-kaidah usaha. Keuntungan berupa ekonomi merupakan target utama yang harus dihasilkan. Kepuasan peternak akan ditentukan dengan seberapa banyak nilai ekonomi yang dihasilkan dari peternakan yang dijalankan.


BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Binis beternak ayam itu membutuhkan banyak sekali waktu,tempat,dll apabila ingin beternak tersebut harus memikirkan lagi matang-matang. Agar ayam-ayam yang kita pelihara dan dijadikan sebagai bisnis tidak mati sia-sia karena tidak memenuhi standard ketentuan. Perlu pembaca ketahui apabila ayam-ayam tersebut tidak dijadikan bisnis pun bisa sebagai hobi.

DAFTAR PUSTAKA
 http://orkalibrary.blogspot.com/2014/03/kumpulan-contoh-karya-ilmiah-lingkungan.html

Jumat, 27 Februari 2015

Mencari Ide Peluang Bisnis

http://bangbandrex.blogdetik.com/files/2012/11/912657fa89293bb94aa6df6292a79867_ilmu-dan-keterampilan-bisnis.jpg

         Peluang bisnis dapat muncul dari hobi kita sendiri, yang sebelumnya mungkin Anda
tidak sadar bahwa hobi Anda bisa dijadikan sebagai usaha. Kalau hobi atau bidang yang
Anda kuasai saat ini belum layak untuk dijadikan peluang bisnis, Anda membutuhkan ide-ide
yang menimbulkan peluang bisnis. Bagaimana cara menimbulkan ide itu? Ide yang
berpeluang usaha bisa didapatkan dari hal-hal seperti berikut ini.


 1. Cita-cita.
         Peluang bisa muncul dari citaa-cita Anda sendiri. Bila keinginan Anda untuk menjadi
pebisnis sangat kuat, maka Anda akan melihat peluang-peluang di hampir semua bidang.
Hampir setiap apa yang dilihat adalah peluang bisnis. Atau setidaknya, Anda secara naluri
akan berupaya mencari peluang di suatu jenis usaha. Hal ini tidak akan terjadi pada orang
yang tidak memiliki cita-cita menjadi pebisnis.

2. Tekanan.
          Bila seseorang menghadapi tekanan maka banyak gagasan yang mucul. Tekanan bisa
datang dari luar, bisa pula diciptakan oleh diri sendiri. Ketika seseorang mendapatkan
tekanan untuk bisa hidup dan menghidupi keluarganya, biasanya dia akan banyak berpikir
untuk mendapatkan solusinya.

3. Kecenderungan pasar.
          Mengamati kebutuhan konsumen di pasar dapat menimbulkan peluang bisnis.
Contoh, kecendrungan sebagian orang akan belanja langsung ke pabrik dengan harga
murah. Maka bermuncullah factory outlet di mana-mn. Dengan berbagai promosi maka FO
menawarkan barang dengan harga murah dengan kualitas barang yang dapat dijamin.

4. Inovasi baru.
         Gagasan untuk menciptakan produk baru timbul karena adanya kebutuhan,
sementara produk itu belum ada di pasaran. Apabila kita berhasil menciptakan produk
tersebut dan dibutuhkan konsumen maka kita dapat menjadi yang pertama dan menguasai
bisnis tersebut (leader). Tentunya kita akan mendapatkan keuntungan yang cepat namun
jangan terlena biasanya pesaing mengincar kita dengan membuat bisnis yang sama dengan
kita (challenger dan para follower).

5. Komplemen dari produk yang ada.
         Sebuah produk dapat memberikan peluang bisnis dengan membuat produk-produk
yang melengkapinya, biasanya berupa aksesori. Produk otomotif seperti mobil biasanya
disertai dengan produk aksesori yang menyertainya. Seperti diketahui, aksesori semacam ini
bisa menjadi peluang bagi si pembuat produk maupun perusahaan.

6. Peristiwa yang digemari atau munculnya tokoh.
          Suatu peristiwa bisa menimbulkan peluang baru. Contoh, adanya musim kompetisi
sepak bola, muncul produk-produk seperti t-shirt yang bergambar piala, pemain sepak bola
favorit, dan lain-lain. Begitu juga dengan tokoh fil yang sedang digemari, memunculkan
produk yang bisa dan bahkan laris dijual. Contohnya boneka Dora, Pokemon, Spongebob,
dan lain-lain.

7. Wawasan.
          Orang yang wawasannya luas, pergaulannya luas dan dia mau berpikir, maka akan
menemukan peluang bisnis. Misalnya seseorang yang sering melihat bisnis yang dilakukan di
luar negeri (bisa didapatkan dari media massa atau berkunjung) dan bisnis tersebut belum
ada di negaranya, ini merupakan cara untuk mendapatkan peluang bisnis. Wawasan bisnis
bertambah luas bukan hanya dengan cara pergi ke luar negeri, namun dapat juga dengan
membaca majalah, buku, dan membaca di internet. Selain itu bisa juga melalui banyak
bergaul dengan teman, relasi, dan saudara yang kebetulan menjalankan bisnis.

8. Bahan bacaan.
         Membaca, selain menambah wawasan dan pengetahuan, juga bisa menimbulkan
gagasan yang mengandung peluang bisnis. Bahan bacaan bisa dari berbagai media. Bila
Anda memang sedang berpikir keras mencari peluang, ketika Anda membaca iklan produk
barang atau jasa, ada kemungkinan Anda mendapatkan peluang bisnis. Peluang yang Anda
dapatkan bisa berbeda dengan yang diiklankan. Ada yang mengatakan bahwa peluaang
bisnis bisa didapat dari halaman kuning (yang berisi direktori atau iklan). Minimal Anda akan
mendapatkan 20 gagasan berpeluang dari membaca halaman kuning itu. Semakin banyak
media yang menyajikan halaman kuning yang Anda basa- misalnya halaman kuning dari
berbagai media negara- semakin banyak peluang yang akan Anda dapatkan.

9. Ide yang muncul tiba-tiba.
         Kadang kala gagasan bisa muncul tiba-tiba, di mana saja dan kapan saja. Hampir
setiap orang mengalaminya. Tetapi tidak banyak orang yang bisa mewujudkan gagasan
menjadi usaha nyata yang membawa keuntungan. Kebanyakan orang melupakan ide-ide
yang tiba-tiba muncul, dia tidak bisa melihat bahwa idenya bisa menjadi suatu peluang
bisnis.Perlu disadari dan diyakini bahwa melihat peluang yang dapat dijadikan sebuah bisnis
itu bisa dipelajari dan dilatih. Latihlah kepekaan Anda untuk mendapatkan peluang bisnis.

Kamis, 26 Februari 2015

Apa itu lingkungan bisnis?



Lingkungan bisnis adalah segala sesuatu yang mempengaruhi aktivitas bisnis dalam suatu lembaga organisasi atau perusahaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut tidak hanya dalam perusahaan (intern), namun juga dari luar (ekstern). Lingkungan bisnis diklasifikasikan menjadi 2 macam, lingkungan Eksternal & lingkungan Internal, Yaitu:
1.       Lingkungan Internal
Lingkungan Internal adalah segala sesuatu di dalam orgnisasi / perusahaan yang akan  mempengaruhi organisasi / perusahaan tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi, yaitu:
A. Tenaga kerja (Man)
B. Modal
C. Material / bahan baku
D. Peralatan/perlengkapan produksi
2.       Lingkungan Eksternal
Lingkungan Eksternal adalah Segala sesuatu di luar batas organisasi yang dapat memengaruhi organisasi. Lingkungan Eksternal ini di bagi menjadi 2, Yaitu:
A.      Lingkungan EKONOMI
# Indikator Ekonomi, Cara mengukur:
- Output agregat
- Standar hidup
- Produktivitas
# Stabilitas EKONOMI
Stabilitas ekonomi yaitu jumlah uang yang tersedia dalam sistem ekonomi dan jumlah barang dan jasa yang diproduksi bertumbuh pada kisaran tingkat yang sama.

B. Lingkungan TEKNOLOGI
                # Beberapa macam dari lingkungan Teknologi:
                    - Teknologi produk & jasa
                    - Teknologi proses bisnis



Kamis, 16 Oktober 2014

Tentang STMIK Amikom Yogyakarta

Mungkin kami tidak bisa berkomentar banyak tentang tempat kuliah saya ini. Ya, karena kami pun baru beberapa bulan masuk di STMIK ini. Kesan pertama saat kami masuk kampus ini adalah sebuah pertanyaan : "Ini kampus apa Mall?" hehe
ya terlihat seperti mall dengan warna yang nyentrik dibandingkan kampus lain menurut kami. Dari segi penataan kampusnya pun sudah sangat baik. Tertata sangat rapi dan memudahkan mahasiswa dari gedung satu ke gedung lainya. Kami berharap amikom makin luas lagi. Kampus Amikom ini menurut saya sangat padat(dibandingkan jumlah siswanya) dan setiap sisi amikom mempunyai spot yang bisa buat nongkrong mahasiswanya. Kerenlah menurut kami. :)
Dan kami beruntung sekali bisa berkuliah disini dengan keadaan kampus yang sudah seperti ini.
Kami tidak bisa membayangkan jika kami berkuliah saat Amikom menjadi "Akademi Mini Komponya" :p

Point khusus kami berikan ke.......PARKIRAN! wuhuuuuu
Yap, parkiran. Betapa luas parkiran Amikom yang kami miliki, tetapi dengan bertambahnya mahasiswa yang hobi main ke dealer motor dan setiap main menunjuk 1 motor untuk dibawa pulang. Maka parkiran yang sangat besar pun sangat terlihat sempit. Sepertinya 25% dari lahan Amikom tetapi tidak membuat parkiran ini cukup. Satu kalimat selalu terucap saat datang siang hari ke kampus tercinta ini : "Cari musuh lebih gampang daripada cari parkir" hehehe















Chapter II : Dosen

Oke, mungkin sedikit saja berkomentar tentang dosen. Karena semakin banyak berkomentar tentang dosen di blog untuk tugas sama saja dengan bunuh diri atau se enggaknya membunuh reputasi diri sendiri dan akan berdampak dengan diomelin orang tua karena nilai IPK tidak muncul karena berani dengan dosen. :P
Mungkin karena pola pikir kami masih seperti anak SMA. ya Kami memang baru lulus SMA agak kaget dengan pola mengajar Dosen disini.
Ciri khas cara mengajar anak SMA seperti : sangat terkesan menjaga jarak ke murid, hubungan murid dan guru sebatas tentang pelajaran dan hanya terjadi saat jam pelajaran. Semua yang kami temui tadi luntur begitu saja setelah melihat dosen-dosen disini. Dosen-dosen disini sangat bersahabat. Menganggap muridnya tidak sekedar murid karena suatu saat bisa menjadi mitra bisnis dan teman tentunya.
Semoga kami tidak menemukan dosen killer di semester lain. kabulhanlah doa baim ya allah. amien.

Chapter III : penutup

Tak akan berpanjang lebar
terima kasih sudah membaca artikel pelangkap tugas ini.
sekian terima kasih.
:)

Pendidikan Karakter Islami

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menetapkan 18 nilai yang menjadi pilar pendidikan budaya dan karakter bangsa (Hajriyanto Y. Thoh...